Tentang Pentingnya Harapan

Pukul 2 pagi, kira-kira 10 taun yang lalu, gue nggak lagi megang laptop, terbaring manja di spring bed empuk dan dipeluk oleh hangatnya suasana kamar kayak sekarang. Melainkan sedang tengkurep di dalam sebuah gubuk bambu berukuran 1,5 x 2 meter yang terletak di tengah sawah. Untuk melawan pekatnya malam di sana, gue baca majalah, tabloid, atau buku LKS yang kiranya bakal gue bawa ke sekolah besok paginya. Di gubuk itu gue ditemani oleh lentera yang apinya rakus memangsa minyak tanah yang dengan riang memanjat di sumbunya. Tanpa mereka tau bahwa di puncaknya sana, ada malapetaka. Ya, seperti orang-orang daerah yang pergi ke kota besar dengan iming-iming hidup yang mulia. Mereka pergi hanya bermodal baju dan celana. Skill spesial? Kadang nggak punya.

Suara kodok bernyanyi bersambutan layaknya paduan suara gereja. Gue nggak ngerti apa yang mereka nyanyikan, tapi yang jelas suara itu jadi semacam depresan. Iya, sebagai ABG, kadang gue kesal juga kenapa gue harus menghabiskan malam hari di sawah, hanya untuk menemani diesel yang sibuk mengairi padi? Di saat anak-anak lain bisa tidur pulas di depan TV? Tapi keluhan gue tak akan membuat maling yang hobby mungut diesel orang di tengah sawah merasa iba dan memasukan diesel eyang gue dalam daftar pengecualian mereka.

Ya, gue 10 taun yang lalu bukanlah seorang penulis buku yang kalian kenal kayak sekarang. Gue masih jadi anak STM yang untuk sekolah saja gue harus ngantor di sawah setiap habis sekolah. Tapi ada satu hal yang membuat gue tetap bertahan dan melakukan rutinitas menyebalkan itu. Hal itu adalah,

Harapan

Coba sekarang gue tanya kepada kalian, dan tolong JAWAB SEDETAIL MUNGKIN ya! Sudah terbayang kah kira-kira 10 taun lagi kalian sedang apa dan di mana? Yang sudah punya jawabannya, silakan tulis di comment box. Bagi yang belum punya jawabannya, atau harus mikir-mikir dulu, perlu gue kasih tau,

Kalo sekarang aja belum kebayang 10 taun lagi kalian bakal jadi apa dan di mana, gimana kalian mau mulai memperjuangkannya? 🙂

Kenapa gue minta kalian jawab sedetail mungkin? Karena buanyak banget orang yang berharap kelak bakal jadi orang sukses, tapi sebagian dari mereka tidak tau persis kesuksesan macam apa yang mereka mau. Kalo gak tau detail kesuksesan macam apa yang mereka mau, bagaimana mereka tau jalan macam apa yang akan mereka tempuh untuk mencapai kesuksesan itu?

Kembali lagi kita bahas tentang harapan. Dengan memiliki harapan, kita bakal tau apa yang perlu kita lakukan. Dengan memiliki harapan, kita bakal tau jalan mana yang harus kita lanjutkan. Dengan memiliki harapan, kita bakal punya semangat untuk segera meninggalkan tempat tidur di pagi hari.

Berbekal harapan untuk hidup yang lebih baik, gue terusin hidup gue dulu yang tak seramah hidup teman-teman seumuran. Berbekal harapan itu pula gue tau ke mana gue harus melangkah setelah gue lulus STM dulu. Gue memaksakan diri untuk kuliah meskipun untuk beli sepatu saja gue harus melawan lumpur di sawah. Dulu hal-hal yang berhubungan dengan sawah itu memang membuat perasaan gue jadi gerah. Tapi kalo sekarang diingat kembali, perjuangan itu ternyata terlihat indah.

Terinspirasi oleh pemikiran luar biasa dari sahabat gue, mas Iwan penulis buku 9 Summers 10 Autumns,

“Saya tidak bisa memilih untuk dilahirkan oleh siapa. Tapi saya bisa menentukan akan seperti apa masa depan saya.”

Kalimat itu benar-benar bisa menggambarkan tekad gue dulu untuk jadi orang yang hidupnya bisa keluar dari garis nasib keluarga. Dan Alhamdulillah, ternyata gue bisa.

Sayangnya, gue sempat kehilangan makna hidup. Atau lebih tepatnya, gue merasa sudah tak lagi hidup. Saat gue udah bisa meraih mimpi gue untuk jadi penulis buku. Saat gue mampu membeli segala aksesoris pendukung gengsi. Saat gue mampu membuat orang-orang di sekitar merasa dengki. Apalagi saat 1,5 taun yang lalu gue mutusin buat balik ke Jogjakarta setelah lelah bertarung dengan ibu kota. Jogja menawarkan segala keramahan, dan kenyamanan yang ternyata diam-diam bisa mematikan. Tepatnya, mematikan kreativitas gue.

Karena di Jogja, gue punya segalanya. Sehingga gue ngerasa nggak perlu lagi ngelakuin apa-apa. Tapi di balik segala hal yang gue punya sekarang, sebenarnya di dalam hati gue ada kehitaman, kehampaan, dan kehambaran yang melenggang. Gue kehilangan makna dari hidup, karena gue udah nggak punya lagi tujuan hidup. Gue nggak tau bangun tiap hari untuk apa, karena gue udah punya segalanya. And here, I have everything, except someone to share it with. It’s so damn boring. Apalah arti hidup bila tanpa perjuangan? Gue kasih tau ya, hidup enak itu membosankan. Tangis, tawa, bahagia, terluka, itu adalah cara Tuhan memberi warna pada hidup kita. Syukuri saja saat kita masih bisa merasakan itu semua.

Nggak kerasa nyaris 2 taun gue nggak punya karya baru berwujud buku yang merupakan jembatan gue untuk bisa jadi manusia seperti sekarang. Segala kenyamanan ini mematikan semua harapan. Gue nggak punya masalah, gue nggak punya hal untuk diresahkan. Sampai akhirnya gue tersadar kalo gue udah kejebak oleh Comfort-Zone. Zona nyaman itu memang seperti wanita jalang yang pandai merayu kita untuk berlama-lama dan bersenang-senang bersamanya, tanpa peduli sudah berapa lama waktu, tenaga dan biaya yang sudah kita curahkan untuknya. Dan akhirnya, tak terasa hidup kita sudah habis untuk hal yang sia-sia.

Akhirnya dengan pertimbangan yang cukup panjang dan matang, gue mencoba untuk membuat harapan baru. Dari yang dulu hanya sekedar penulis buku, sekarang gue tambahin harapan-harapan baru yang mungkin bakal jadi harapan jangka panjang sebagai alasan buat gue untuk tetap hidup dan tetap berjuang. Berikut ini adalah beberapa harapan yang gue tanamkan di hati gue, agar gue tau esok pagi gue harus ngapain. Agar gue tau, taun depan gue harus di mana. Agar gue tau, hidup gue nggak boleh sia-sia.
Jangan takut untuk memimpikan hal-hal besar atau hal-hal yang menurut orang-orang pesimis as something which is too good to be true. Karena nggak ada impian yang terlalu besar, yang ada cuma usaha yang kurang besar. 🙂

Mau liat bukti impian-impian gila gue dulu yang jadi nyata? Cek DI SINI.

Tapi, impian akan tetap jadi impian fana kalo nggak ada usaha untuk mewujudkannya. Jadi, demi mengejar semua impian dan harapan gue di atas, bakal butuh waktu terlalu lama kalo gue berjuang di Jogja. Akhirnya, gue putusin untuk berhijrah ke ibu kota lagi. Ya, gue yakin Jakarta dengan segala hiruk-pikuknya bakal mampu menciptakan kembali banyak keresahan di hati gue.

Loh, Al.. Kenapa lo mencari keresahan? Bukannya manusia biasanya mencari kedamaian dalam hidup?

Ya, mungkin untuk sebagian orang, mereka lebih memilih hidup di Zona Nyaman (NYAri aMAN). Tapi buat gue, sebagai orang yang menggantungkan hidupnya di dunia kreatif, gue butuh keresahan. Kenapa?

Karena tak ada karya indah yang tercipta dari kehidupan yang nyaman-nyaman aja.

So, Jakarta.. I’ll be back! I’m ready to fight again! 🙂