Acara-acara Nggak Mutu di TV

Kemarin gue iseng nonton TV lokal karena gue lupa bayar lengganan Indovision selama 2 bulan. Endingnya, layanan TV kabel gue dimatiin sama operator penyedianya. Biasanya, misal pun TV kabel gue masih aktif, gue lebih sering nonton Youtube. Kenapa? Karena gue bisa milih sendiri acara macam apa yang mau gue tonton.

Nah, sejam gue nyoba nonton TV lokal, gue cuma sibuk mencetin remote buat mindahin channel mulu. Soalnya gue ngerasa, hampir nggak ada segi hiburan di acara-acara itu. Ada yang joget ayan massal, ada yang berantem di infotainment, ada juga liputan orang yang tubuhnya kebakar lagi diwawancara tanpa sensor. Those shits make me sick! Oke, biar lebih jelas, gue breakdown gimana acara-acara yang nggak mutu MENURUT GUE:

1. Infotainment Abal
Artis A dikabarkan selingkuh. Hampir tiap hari, acara infotainment membeberkan kisah-kisah masa lalu si A ini. Dicariin semua info mulai dari nama-nama mantannya, sampe ukuran BeHa mantannya. Infotainment itu juga menyebarkan foto-foto masa lalu si artis A ini pas masih jaman labil. Seolah-olah pemberitaan tersebut benar-benar memojokan si artis sehingga orang-orang yang melihatnya akan sangat membenci artis itu. Bahkan, wartawan infotainment itu bakal mewawancarai orang-orang yang mengaku kenal dengan artis yang digossipin itu. Mulai dari tetangga, RT, sampe pemulung yang biasanya ngaduk-ngaduk tempat sampah di depan rumah si artis.

Sebulan kemudian, si artis A ini pun diceraikan oleh pasangannya karena pasangannya terhasut oleh gossip itu. Padahal anak hasil pernikahan mereka sudah 16. Karier si artis juga hancur karena masyarakat sudah tidak ada yang respek lagi kepadanya. Setelah perceraian terjadi, si infotainment itu kembali meliput kehidupan artis A. Mereka menceritakan betapa menyedihkan kehidupan si artis tadi dengan bahasa yang sangat drama, menyentuh hati dan membuat orang-orang yang menonton merasa iba.

Gue nggak paham sama infotainment abal-abal semacam ini. Report flow mereka hampir selalu sama:

Ngegossipin kejelekan artis-> Nyari info-info ntah valid atau nggak tentang kebusukan artis itu buat mancing emosi masyarakat-> Si artis hidupnya hancur-> Ngeberitain kehidupan si artis yang ancur itu buat mancing rasa iba.

Gue nggak ngerti tujuan mereka apa. Tapi yang jelas, konten ghibah itu racun. Tapi anehnya, ada stasiun TV lokal yang abis ngajakin penonton buat inget Tuhan dengan acara dakwah agama, ehh.. Abis itu diajak ghibah dengan menyuguhkan gossip di infotainment. Absurd.

2. Berita Lebay
Zaman gue jadi wartawan, gue dapet pengalaman betapa susahnya nyari berita. Waktu itu gue masih bekerja sebagai stringer atau wartawan lepas. Gue dibayar berdasarkan berita yang tayang. Jadi sekeren dan sesusah apapun gue ngedapetin berita itu, kalo endingnya nggak dipilih sama redaksi dan nggak ditayangin di TV, berita itu nggak akan dibayar. Rugi bensin, rugi tenaga, rugi waktu.

Loh? Emang berita yang bakal tayang tuh yang kayak apa Litt?!

Ada beberapa kriteria berita yang bakal tayang. Yang paling penting adalah beritanya kudu heboh. Misal zaman gue jadi wartawan dulu, kan Indonesia lagi heboh-hebohnya demo “Ganyang Malaysia” di mana-mana tuh. Nah, biasanya yang diambil sama redaksi pusat sono, ya hasil liputan-liputan demo di ibu kota. Yang di kota kecil kayak Jogja biar bisa tayang gimana? Ya demo yang diliput harus lebih heboh daripada demo yang di ibu kota. Misal ada aksi bakar bendera, aksi bakar ban, atau aksi bakar ayam tetangga.

Nah, mungkin ya.. Ini masih hipotesis gue loh ya.. Mungkin dengan tuntutan semacam itu, sebagian wartawan sengaja memberitakan isu yang mereka liput dengan cara lebay. Biar dipilih sama redaksi buat ditayangin. Itulah kenapa, sekarang di TV banyak berita-berita (walau nggak semua) yang penyampaiannya terlalu berlebihan. Kurang menggambarkan fakta dengan berimbang.

3. Sinetron Basi
Dulu gue demen sama sinetron. Iya, zaman gue SMP gue suka nemenin eyang nonton sinetron di TV. Tapi sebagian sinetron zaman sekarang sudah nggak seperti dulu lagi. Gue pernah ngikutin beberapa sinetron zaman sekarang. Dan kesimpulan yang gue dapat adalah, cerita sinetron itu “disetir” oleh rating. 

Maksudnya gini, ada sinetron yang bikin gue tertarik buat nonton nih ya.. Baru jalan kira-kira sebulan, tuh sinetron tamat dengan cara yang super maksa. Kalo nggak salah, ceritanya tentang seorang Preman yang bandel, dan dipaksa ortu buat masuk pesantren. Gue kira ceritanya bakal keren, soalnya tuh preman masih suka ngelakuin hal-hal jail di pesantren. Eh, baru juga jalan beberapa episode, si Preman nikah sama anak yang punya pesantren. Tamat deh. Setelah gue perhatiin, iklan di sinetron itu emang dikit banget. Yang menandakan kalo rating sinetron itu sangat rendah. Mungkin itu penyebab sinetron tadi di-cut gitu aja sama produser.

Ada juga sinetron ibu-ibu yang ceritanya sangat menjijikan. Ciri-ciri sinetron yang ceritanya basi tuh kayak apa? Kayak gini:

– Salah satu tokoh dalam cerita itu bisa hidup dan mati kapan aja tanpa bantuan Dragon Ball
– Tokoh-tokoh dalam cerita itu bisa ngomong tanpa menggerakkan bibir.
– Rebutan harta yang dimiliki oleh seorang milyarder bego yang gampang diguna-guna.
– Editing video seadanya. Pake visual effect yang maksa. Misal:
*Efek naga terbang yang gambarnya masih sekasar gambar gameboy.
*Editor videonya terlalu males nyisipin voice over, sehingga talent yang lagi acting nelpon, kudu sengaja ngulang ucapan orang di seberang telepon biar penonton paham mereka lagi ngobrolin apa.

– Properti yang ‘maksa’ dan tingkat ke-gaptek-an talent yang kayak gini,

Dude: “Ibu make hape kebalik ya? Kok suaranya kecil?”
Ibu: “Apa, nak?! Handphone ibu kebalik?! ASTAGHFIRULLAH!”
Pic taken from: 1cak.com
Selain itu, yang bikin gue bete adalah nonton sinetron yang diawali dengan flash-back episode sebelumnya selama 15 menit, lalu diikuti iklan selama 15 menit, terus dilanjutin dengan cerita yang di-slowmotion, terus ditutup dengan iklan panjang dan adegan kentang dengan diakhiri tulisan ‘Bersambung’.

Anehnya, sinetron dengan cerita semacam ini malah laris manis dan dapet rating yang tinggi, sehingga episodenya bisa panjaaaang banget. Gue ampe inget, dulu ada sinetron yang dari zaman tokoh utamanya belum menstruasi, episodenya masih lanjut terus sampe akhirnya si tokoh utamanya jadi janda di dunia nyata.

4. Acara Musik Palsu
Kalo pagi, lo coba deh nonton TV. Di sono lo bakal nemuin acara musik sesat yang bakal menyuguhkan musisi-musisi yang sedang beraksi di panggung dengan penuh semangat. Diikuti oleh goyangan para sahabat alay yang harusnya masih sekolah, tapi malah joget-joget di depan panggung di jam sekolah.

Nah, kalo lo perhatiin ya, alat musik yang dipake sama mereka tuh nggak ada kabelnya semua. Mulai dari drum, keyboard, sampe gitar juga nggak ada kabelnya. Tapi bagi yang masih mau berpositive-thinking, silakan anggap instrument-instrument itu udah pake teknologi wireless. Tapi silakan perhatikan lagi kalo vokalisnya nyanyi. Kadang pas dia ngelempar microphone-nya ke penonton sambil bilang “Mana suaranya?!”, lo bakal denger suara nyanyiannya masih ada. Wow! Tanpa microphone pun suaranya masih bisa menggelegar. Gue juga bingung. Kenapa dia suka minta suara ke penonton. Kan dia yang nyanyi. Suasananya bakal makin absurd kalo personel lain sama begonya kayak si vokalis. Misal gitarisnya teriak ke penonton “MANA GITARNYA?!”

Buat lo yang masih mau berpositive-thinking pas ngeliat kejadian itu, gue kasih tau bahwa ada trick bernama lip-sync. Yang intinya adalah menyamakan gerakan bibir dengan lagu yang lagi main. Kebetulan, gue adalah tipe orang yang suka menikmati live music daripada hasil rekaman. Yang gue tunggu-tunggu dalam live-music itu adalah improvisasi permainan si musisi. Misalnya melodi gitar yang dimodifikasi biar beda dari versi recordednya, atau improvisasi vokal si penyanyi, itu ngasih nuansa tersendiri dalam live music performance. So, acara music yang ngebiarin musisinya lip-sync, menurut gue adalah palsu.

5. Lawakan Basi
Niatnya sih bikin penonton ketawa, tapi si pelawak make ejekan fisik.
Niatnya sih bikin penonton ketawa, tapi si pelawak ngelempar tepung ke orang.
Niatnya sih bikin penonton ketawa, tapi si pelawak akting jadi bencong.

Nyadar nggak, kalo hal-hal itu bisa ditiru oleh anak-anak?
Misalnya, adek lo pengin bikin ortu lo ketawa, nah pas lo pulang sekolah, tiba-tiba lo dilempar tepung, digebukin pake styrofoam, dan dikatain “Kulit lo kok item kayak pantat panci?!” di depan ortu. Apa lo pikir itu lucu?

Itu bukan komedi sejati. Komedi sejati itu perlu kecerdasan untuk membuat materinya, dan perlu kecerdasan untuk menikmatinya juga.

Kesimpulan dari opini gue tentang acara-acara nggak mutu di TV lokal ini adalah, semua acara itu bisa bertahan karena rating acara. Rating itu berdasarkan dari minat kita untuk menontonnya. Kalo kita masih nonton acara-acara yang menurut kita nggak mutu, artinya kita ngasih kontribusi ke rating acara-acara itu. Percuma juga kita protes-protes untuk memusnahkan acara-acara ‘sampah’ kalo kita masih doyan nonton acara-acara itu lagi.

Sebenernya logikanya sama dalam pemerintahan kok. Kita, sebagai rakyat jelata, punya kekuatan yang besar untuk menentukan ke mana arah negara kita. Tapi sayang, sebagian besar dari kita nggak tau gimana cara menyatukan visi dan misi kita untuk menghancurkan tahta yang dipegang oleh oknum yang salah. Sebagian dari kita terlalu terbuai oleh rasa malas untuk melakukan sesuatu, terjebak di comfort-zone dan bertahan di zona aman. Sayang banget kalo kita masih make motto hidup “Biar lagi dijajah nggak apa-apa, yang penting masih bisa makan.”

Mungkin postingan ini semacam reminder juga buat lo, bentar lagi udah 2014. Kita sebagai warga negara yang baik, jangan sampai terjebak oleh ketidak pedulian. Kita bisa mengkritisi, mencaci, tapi sayang sebagian dari kita tidak ada usaha untuk mengubah keadaan negara. Kenapa gue bilang “tidak ada usaha”? Karena kemarin gue nanya ke temen-temen soal Pilpres 2014, sebagian besar dari mereka bilang bakal golput, alias nggak milih. Sadarkah kalian, bahwa setiap suara yang tidak digunakan oleh orang yang golput, BISA SAJA dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk “dijual” suaranya kepada calon yang berambisi dan mau memakai jalan curang? So, tahun 2014, jangan golput ya! Mending membuat pilihan yang salah, tapi pilihan diri sendiri, daripada menerima pilihan yang salah dari orang lain. Karena endingnya kita sama-sama dapet konsekuensi. 😉

So, this is the end of the post. Maaf-maaf kalo dalam penyampaian gue ada pihak yang tersinggung. Sekali lagi gue tekankan bahwa yang gue sampein di sini adalah opini dan hipotesis gue sebagai rakyat jelata yang nggak paham sistem yang dijalankan di stasiun TV. Postingan ini gue bikin karena gue kangen sama acara-acara mendidik dan sesuai porsi usia penonton seperti di zaman dulu. Misal kuis-kuis buat anak sekolah, atau estafet film-film kartun di hari minggu pagi sampai minggu siang. Sekarang udah jarang film kartun, digantiin sama acara band abal-abal yang lagu-lagunya nggak cocok buat adek-adek yang masih kecil. Oiyah.. Gue pengin tau nih dari kalian para pembaca, acara-acara di TV lokal, yang menurut kalian nggak mutu itu yang kayak apa aja? Tulis di comment box ya! 😀